non blogs

Berkurangnya Waktu

Desember 9, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Akhir bulan November 2007 kemarin, tepatnya 29 Nov – 2 December 2007, ayah harus mengikuti Workshop di Puncak. Sebenarnya trainingnya mulai dari tanggal 30 Nov 2007, tapi berangkat dari kantor hari kamis tngl 29 Nov, biar Hari Jum’at bisa langsung mulai dari pagi hari.

Jadi kalau ditotal sekitar 4 hari ayah meninggalkan Fathan. Soalnya, Ayah berangkat dari rumah tetap seperti saat ayah mau bekerja.

Dan ayah kembali lagi ke rumah hari minggu malam. Sampai dirumah sekitar jam setengah dua belas malam. Rumah sudah sepi. Bunda, Fathan, dan mbak sudah terlelap. Entah dari jam berapa. Setelah mandi dan unpacking, ayah baru bisa tidur sekitar jam satu malam.

Hari Senin, tanggal 3 Dec 2007, ayah sengaja ambil libur. Badan rasanya nggak kuat kalau harus diajak ke kantor. Dan leher kok kayaknya ada yang nggak beres. Mungkin efek tidur di mobil semalam.

Bunda sendiri hari ini juga libur. Memang sudah direncanakan dari awal kalau hari senin ini mau libur. Biar liburnya sama dengan ayah. Soalnya kesempatan ketemunya cuma di hari minggu doang.

Entah kenapa sejak hari itu, Fathan kelihatan manja banget. Baik sama bunda, terlebih sama ayah. Ada saja polahnya yang terkadang bikin ayah pengen banget marah. Terkadang sih ayah masih bisa menahan diri. Tapi kan ada akalanya ayah lagi capek, dan Fathan belum begitu ngerti kalau pulang kerja adalah masa paling capek.

Dan itu tidak berlangsung hanya sehari itu doang. Tetapi juga hari-hari setelah itu. Yang paling menonjol adalah dia suka sekali teriak-teriak. Waduh bikin pusing deh.

Tapi ya bagaimana ya. Mungkin itu indikasi bahwa waktu antara ayah dan dia untuk minggu ini memang kurang dari biasanya. Dan itu sudah terlihat sejak ayah pergi. Fathan tidak pernah bisa menerima kalau ayah pergi.

Ayah biasanya bilang kalau ayah bobo di kantor. Dan kalau kita diskusikan itu ke Fathan, dia langsung rewel. Nggak mau terima.

Kalau sudah begini jadi inget dulu saat Fathan masih bayi, saat dia enggan kalau sama ayah. Maunya sama bunda kalau nggak ya mbah. Untung sempat ada waktu dimana kita nggak punya pembantu. Jadi mau nggak mau, pagi hari sebelum ayah berangkat kerja, harus memandikan Fathan terlebih dahulu dan mempersiapkan segala sesuatunya di hari itu. Begitu sudah mandi, Fathan dititipkan di rumah embah. Begitu terus, dan efeknya ternyata luarbiasa. Fathan jadi dekat sama ayah.

Blessing in Disguise…

 

Kategori: Fathan

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar