non blogs

Hari Ini 3 Tahun Yang Lalu (Part II)

Januari 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seharusnya lanjutan tulisan ini Ayah buat dan posting kemarin hari Senin, 31 Desember 2007, cuma karena Ayah harus datang ke kantor dan setelah itu kita menginap di rumah Embah di Karya Baru, dan baru pulang Selasa Sore, jadi baru sekarang bisa bercerita lagi.

***

Selanjutnya, Hari Jum’at pagi tanggal 31 Desember 2004, saat orang-orang bersiap mengadakan pesta tahun baru, Ayah dan bunda masih harap-harap cemas. Bagaimana tidak, pagi itu masih bukaan 2. Sama seperti semalam waktu datang.

Sekitar jam 9 pagi, atas saran perawat di situ, bunda disarankan berjalan-jalan sambil naik turun tangga yang ada di RS Medika Permata Hijau. Jadilah kita jalan-jalan muter-muter dari lantai atas kebawah, terus naik lagi.

Setelah satu jam, bunda diperiksa lagi, dan…. masih bukaan 2 juga. Ya Allah, kok masih dua juga ya..

Akhirnya setelah perawat berkonsultasi sama dr. Hendy Mochtar, Bunda mulai jam 10 diinduksi melalui infus.

Di ruang bersalin saat itu Bunda ditemani oleh Ayah sama Mbah Ti.

Sesaat setelah induksi dilakukan, mulai terlihat efeknya ke bunda. Setiap beberapa menit sekali , bunda mulai merasakan sakit. Kemudian hilang lagi sakitnya. Terus kerasa lagi.

Melihat keadaan bunda, barulah disitu Ayah melihat bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan anak. Benar-benar antara hidup dan mati.

Dalam waktu satu jam setelah infus dipasang, entah sudah berapa kali bunda mengerang kesakitan. Rambut sudah mulai basah oleh keringat. Bagimana tidak, saat sakit tiba, bunda meronta-ronta kekiri, kekanan. Duh beratnya perjuangan itu…

Disela-sela sakit itulah, Bunda sadar bahwa saat itu dia berjuang antara hidup dan mati. Sambil menitikkan air mata, bunda minta maaf sama Emak (Bunda manggil Emak ke Mbah Ti).

“Maafin Yayah (panggilan bunda) ya Mak. Kalau selama ini Yayah salah sama Emak. Maaf Ya Mak”

Kata-kata itulah yang membuat Ayah ikut menitikan air mata.

Lucunya, meskipun terasa sakit, bunda masih sempat aja makan. Pihak RS memang menyediakan makan buat pasien. Entah sudah berapa suapan yang masuk ke mulut bunda saat itu.

Karena hari itu, Hari Jum’at, Ayah tidak bisa menemani lagi karena harus Sholat Jum’at. Ayah berharap bayi ini lahir setelah Sholat selesai, jadi Ayah masih sempat menemani.

***

Selesai Jum’atan di Masjid As-Syukur, Ayah balik lagi ke RS. Antara Masjid dan RS memang dekat. Lokasinya berhadap-hadapan. Sesaat setelah Ayah datang, datang juga dokter Hendy. Beliau ternyata habis Jum’atan di As-Syukur juga.

Saat itu waktu sudah menunjukkan hampir jam satu. Diperiksa sebentar, dokternya langsung, bilang, “bisa sekarang nih. Sudah waktunya”

Saat itulah, kita harus memilih siapa yang harus menemani bunda di ruang bersalin. Ayah atau Mbah Ti. Karena hanya diperbolehkan satu orang yang menemani proses kelahiran di ruang bersalin.

Ayah saat itu siap seandainya bunda memilih Ayah yang menemani. Siap nggak siap Ayah harus siap. Walaupun belum pernah mengalami hal seperti ini. Kalau Mbah Ti, sudah sangat berpengalaman.

Akhirnya bunda memilih ditemani Mbah Ti, dengan pertimbangan, ini pengalaman pertama buat bunda, dan Mbah sudah berpengalaman dalam hal seperti ini. Karena sudah melahirkan delapan kali, dan sebagian besar hanya dibantu oleh Mbah Kung. Tanpa perawat maupun dokter !

Ayah harus menunggu diluar. Sama dengan Ayah-ayah yang lain jika menemani istrinya melahirkan. Ayah mondar-mandir aja di luar. Sambil mendengar bunda berteriak, menjerit kesakitan, Ayah berdoa semoga semua berjalan lancar.

 

Nggak berapa lama, sekitar jam 13.15, ayah dengar suara ooooeeeeekkk. Alhamdulillah sudah lahir. Konon kata orang-orang yang ada di ruang bersalin, si bayi begitu keluar, yang dia katakan adalah ….. emmmbaaaah ……

Entah bener apa nggak, saat itu wajah Fathan memang mirip banget sama Eyang Ti di Semarang (Ibu nya Ayah). Mungkin Fathan lagi manggil Eyang Ti kali… :)

Setelah dibersihkan, tiba giliran Ayah untuk menyuarakan Adzan buat Fathan.

Mungkin karena saking khusuknya adzan, kata mbah ti, ayah lama banget adzan di telinganya Fathan. Yah nggak papa lah, siapa tahu dengan begitu Fathan menjadi anak yang sholeh, seperti harapan Ayah dan Bunda. Amiiiin.

***

Malam itu, saat orang-orang berpesta menyambut datangnya tahun 2005, Ayah dan bunda telah melalui sebuah tahapan baru. Sejarah telah ditorehkan. Amanah telah disampaikan Allah SWT kepada Ayah dan Bunda sejak hari itu, entah sampai kapan amanah itu Ayah dan Bunda emban.

Hari ini, tak terasa air mata kebahagiaan kembali tumpah, melihat wajah polos Fathan di tempat tidur. Begitu indah. Tiga tahun sudah semua berjalan. Keringat, air mata telah tercurah demi mengemban amanah yang teramat berat itu.

Ya Allah

Berikanlah Kami Kekuatan Dalam Mengemban Amanah Ini

Berikanlah Kami Kekuatan Untuk Bisa Membimbingnya Ke JalanMu

Semoga menjadi penerang bagi hati kami sekeluarga

Dan Kumpulkan Kami di Surgamu Kelak

Amin

 

 

 

 

 

 

 

Kategori: Bunda · Fathan

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar