Nama lengkapnya Mbak Jumilah. Dia pembantu rumah tangga kami. Ikut kami sejak pertama kali pindah ke rumah ini. Hampir sepuluh bulan. Cukup lama dibandingkan dengan pembantu sebelumnya.
Dan dihari Sabtu kemarin, tiba-tiba memberi kabar yang cukup mengagetkan. Yakni keinginannya untuk berhenti. Duh, kok jadi begini?
Bukan apa-apa, saat ini adalah saat menghitung hari Bunda untuk melahirkan. Perkiraan ayah sih minggu ini. Kalau perkiraan dokter pertengahan april. Tapi initinya sudah hampir tiba waktunya. Lha kok mbak malah mau berhenti.
Alasannya adalah suaminya yang minta untuk tidak bekerja lagi. Entah benar atau tidak, kemarin bunda sempat telpon ke suaminya untuk konfirmasi masalah ini. Suaminya bilang sih tidak memaksa, itu terserah mbak Jum.
Kalau dari keterangan itu, kemungkinan besar adalah Mbak Jum kangen sama anaknya. Anaknya seumuran Fathan. Selama ini ditititpkan ke Ibunya. Pekerjaan ibunya sendirinya tidak begitu jelas, tetapi sekali waktu harus ke sawah. Sedangkan suami mbak Jum adalah sopir truk. Pulangnya sebulan sekali.
Mbak Jum sendiri boleh dibilang sudah kami beri banyak kebebasan. Dalam sepuluh bulan ini saja, sudah pulang ke kampung tiga kali, masing-masing kurang lebih seminggu. Dan setiap berapa minggu sekali dia minta ijin ketemu suami. Biasanya di hari sabtu dan pulang dihari minggu sore.
Hal itu kami beri dengan pertimbangan untuk menghindari kebosanan. Kami maklum kerja seperti itu rentan sama dengan kejenuhan. Sekali waktu butuh rehat juga.
Mbak Jum sendiri, akan berhenti kalau penggantinya sudah datang. Penggantinya adalah tetangga suaminya di kampung. Jadi ceritanya akan ada serah terima jabatan. Kami sangat menghargai sikapnya. Meskipun mau berhenti, tetapi masih mau mencarikan pengganti dan memberi waktu.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.