Saat Subuh sudah menjelang, Ayah tersadar dari bangun. Entah dengan Bunda, mungkin tertidur juga menunggu saat mulas datang. Tapi kalau melihat perawat yang lagi memeriksa bunda, sepertinya ada perkembangan yang terlewatkan oleh Ayah.
“Mulesnya sudah meningkat kok Pak”, begitu kata perawat.
Alhamdulillah. Segera ayah ambil wudhu dan sholat subuh. Saat balik lagi ke kamar, bunda sudah selesai dengan urusan sama suster, dan membolehkan Ayah untuk sarapan dulu.
Untuk mempersingkat waktu, ayah sarapan di depan rumah sakit. Disitu ada beberapa orang yang jual makan buat sarapan. Ada bubur, atau lontong sayur. Sepertinya lontong sayur boleh juga nih. Habis juga tuh satu piring.
Balik lagi ke kamar, ada kesibukan yang meningkat. Seorang perawat bilang bahwa Ibu harus dipindah ke kamar bersalin, sepertinya tidak beberapa lagi si orok akan keluar. Saat itu waktu sudah sekitar pukul enam pagi.
Ruangan bersalinnya sendiri cukup rapi. Ada sebuah TV tergantung dekat kamar mandi. Hanya ada satu tempat tidur untuk persalinan, yakni yang dipakai oleh bunda. Sebuah sofa panjang pun tersedia untuk penunggu.
Saat-saat seperti ini jadi teringat 3 tahun lalu saat Fathan sudah di gerbang kelahiran. Saat itu Bunda masuk ke ruang bersalin ditemani oleh Mbah Ti, karena hanya diperbolehkan 1 orang keluarga yang menunggui. Ingin juga Ayah masuk, tapi dengan pertimbangan Mbah Ti sudah berpengalaman, ayah merelakan Mbah Ti masuk menemani bunda mengantarkan Fathan masuk ke dunia.
Jauh-jauh hari bunda sudah pesan, “Yah, nanti kalau lahiran yang kedua ini Ayah yang nungguin ya. Biar Ayah tahu bagaimana sakitnya seorang Ibu itu melahirkan. Ayah berani kan?”
“Insya Allah berani…. tanpa diminta pun Ayah juga kepingin banget menemani kelahiran ini kok Nda”
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.